BANDUNG, METROJABAR.CO.ID – Universitas Padjadjaran (Unpad) berkolaborasi dengan UNSW Business School, Australia, mengembangkan Smartambak, sebuah aplikasi berbasis smartphone yang membantu petambak mengenali indikasi penyakit udang sejak dini. Inovasi digital ini diharapkan mampu menekan risiko kerugian, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat keberlanjutan usaha budidaya udang, khususnya bagi petambak tradisional.
Pengembangan Smartambak dilatarbelakangi tingginya ancaman penyakit yang kerap mengganggu usaha budidaya udang. Serangan penyakit yang sulit dikenali pada tahap awal dapat menyebar dengan cepat dan berdampak pada penurunan hasil panen hingga kerugian ekonomi yang besar.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, riset kolaboratif tersebut diarahkan untuk menghadirkan solusi praktis yang dapat digunakan langsung oleh petambak. Aplikasi ini diharapkan membantu mereka memperoleh informasi awal mengenai kondisi kesehatan udang sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.
Head of DIGITS FEB Unpad, Dr. Rora Puspita Sari, mengatakan bahwa wabah penyakit merupakan salah satu faktor yang menyebabkan petambak udang mengalami kerugian besar. Karakteristik udang yang rentan terhadap penyakit membuat deteksi dini menjadi aspek penting dalam pengelolaan tambak.
“Kami memulai riset ini karena melihat fenomena banyaknya petambak yang mengalami kerugian akibat wabah penyakit udang. Udang merupakan spesies yang rentan sakit, dan penyakitnya dapat menyebar ke udang lainnya. Karena itu, kami memikirkan solusi digital yang dapat membantu petambak memperoleh peringatan dini agar penyakit tidak menyebar,” ujar Rora di Hotel Kimaya, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026).
Smartambak, Cukup Unggah Foto Udang untuk Mengenali Indikasi Penyakit
Rora menjelaskan, Smartambak dirancang agar mudah digunakan, termasuk oleh petambak tradisional yang membutuhkan akses teknologi praktis dan terjangkau.
Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mengunggah foto udang untuk memperoleh hasil identifikasi indikasi penyakit beserta informasi dan rekomendasi awal. Smartambak juga dilengkapi fitur pemantauan kondisi sarana dan media budidaya yang menjadi parameter penting dalam menjaga kesehatan udang.
“Melalui aplikasi ini, petambak bisa mengunggah foto udang untuk mengetahui indikasi penyakit dan mendapatkan rekomendasi awal. Ada pula fitur yang membantu memantau kondisi lingkungan budidaya, sehingga petambak memiliki informasi tambahan untuk mengidentifikasi potensi masalah,” katanya.
Salah satu keunggulan Smartambak adalah dapat dimanfaatkan secara gratis oleh petambak. Kehadiran aplikasi ini diharapkan memperluas akses terhadap informasi kesehatan udang, terutama bagi pelaku usaha skala kecil yang memiliki keterbatasan dalam memperoleh layanan pemeriksaan dan pendampingan teknis.
Meski demikian, hasil identifikasi aplikasi merupakan informasi awal yang perlu dipertimbangkan bersama pengamatan langsung dan, bila diperlukan, pemeriksaan oleh tenaga ahli. Dengan pendekatan tersebut, petambak dapat memiliki referensi tambahan sebelum menentukan tindakan penanganan.
Kolaborasi Unpad dan Australia Dorong Inovasi Budidaya Udang
Pengembangan Smartambak merupakan bagian dari kolaborasi riset Unpad dan UNSW Business School, Australia. Menurut Rora, kerja sama ini memperoleh dukungan pendanaan melalui program KONEKSI serta pendampingan dari sejumlah lembaga riset Australia.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan petambak Indonesia, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi serupa di negara lain yang menghadapi tantangan penyakit dalam budidaya udang.
Ke depan, Unpad berharap Smartambak dapat terintegrasi dengan ekosistem program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah berjalan. Integrasi tersebut berpotensi memperkuat peran penyuluh perikanan dan pemerintah daerah dalam mendampingi petambak mengelola usaha budidaya secara lebih efektif.
Dengan dukungan teknologi digital, petambak diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih mudah diakses untuk memantau kondisi udang, mengenali potensi gangguan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Sakiroh petani tambak udang asal Cirebon saat memperlihatkan aplikasi Smart Tambak
Petambak Cirebon Rasakan Manfaat Smartambak
Manfaat Smartambak juga dirasakan Sakiroh, petambak udang asal Kabupaten Cirebon yang telah menekuni usaha budidaya sejak 2021. Ia mengaku masih menjalankan usaha dalam skala kecil dan memasarkan hasil panennya melalui bandar lokal.
Bagi Sakiroh, teknologi yang mudah digunakan menjadi kebutuhan penting bagi petambak tradisional, terutama ketika menghadapi penyakit yang sulit dikenali pada tahap awal.
“Smartambak sangat membantu petambak udang tradisional. Kita cukup memasukkan data dan foto, kemudian muncul deteksi serta informasi mengenai penyakit udang. Walaupun hasilnya masih sebatas dugaan atau prediksi, informasi itu sangat membantu petambak untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang menyerang,” ujar Sakiroh.
Ia menilai, informasi yang disediakan aplikasi dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi petambak, termasuk mereka yang telah lama berkecimpung dalam usaha budidaya. Dengan adanya referensi tambahan, petambak dapat lebih terbantu dalam memantau kondisi udang dan mempertimbangkan langkah penanganan berikutnya.
Sakiroh menyebutkan, sejumlah penyakit masih menjadi tantangan bagi petambak di kawasan pantai utara Jawa. Di antaranya Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), yang berkaitan dengan gangguan pertumbuhan udang, serta penyakit lain seperti WFD dan MEV yang menurut pengalamannya juga menjadi persoalan di lapangan.
Gangguan kesehatan udang dapat menyebabkan pertumbuhan melambat, hasil panen menurun, bahkan memicu kerugian ekonomi yang signifikan. Situasi ini membuat akses terhadap informasi awal mengenai kesehatan udang semakin dibutuhkan, terutama oleh petambak dengan sumber daya dan akses pendampingan yang terbatas.
Smartambak Diharapkan Perkuat Produktivitas Petambak Tradisional
Pengembangan Smartambak menunjukkan upaya perguruan tinggi dalam menerjemahkan hasil riset menjadi solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Melalui kolaborasi Unpad dan mitra Australia, teknologi digital diharapkan semakin mudah diakses oleh petambak untuk mendukung pengelolaan budidaya yang lebih terukur.
Keberadaan aplikasi ini juga diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan risiko penyakit, meningkatkan kesiapan petambak menghadapi persoalan di lapangan, serta mendukung produktivitas sektor budidaya udang Indonesia.
Bagi petambak tradisional, akses terhadap informasi yang praktis dan terjangkau menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Dengan pengembangan dan pemanfaatan yang berkelanjutan, Smartambak berpotensi menjadi salah satu instrumen pendukung bagi terciptanya budidaya udang yang lebih tangguh, produktif, dan berdaya saing***
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Puspenpol Ungkap Capaian Astacita di 8 Sektor Strategis
Direktur Strategis Puspenpol Abizar Machmud: Renovasi Sekolah Jadi Langkah Strategis Wujudkan Asta Cita Prabowo
Program Bedah Rumah Gratis Era Presiden Prabowo Ditargetkan Sasar 400.000 Keluarga pada 2026
Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, 100 Lebih Klaim Perubahan Disorot: Pangan, Pendidikan hingga Penegakan Hukum
PLN Perkuat Dukungan Program KDKMP melalui Kolaborasi Layanan Kelistrikan
Dukung jurnalisme independen kami dengan memindai kode QRIS di bawah ini melalui aplikasi e-wallet atau m-banking kesayangan Anda.
Terima kasih banyak atas apresiasi & dukungan Anda!