GARUT,METROJABAR.CO.ID-Kabar itu datang dari jauh yakni dari Nusa Tenggara Timur,namun gaungnya menghantam nurani hingga ke Jawa Barat. Seorang siswa sekolah dasar memilih mengakhiri hidupnya karena tak memiliki alat tulis. Sebuah ironi yang menelanjangi realitas pahit: di negeri sebesar ini, masih ada anak yang kalah oleh harga sebuah buku.
Bagi sebagian orang, berita itu mungkin hanya lewat di linimasa. Tapi bagi Reborn Indonesia, itu adalah alarm. Bukan untuk berdebat. Bukan untuk menyalahkan. Melainkan untuk bergerak.
Kamis pagi, 26 Februari 2026, rombongan motor memasuki halaman SDN 3 Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Garut. Deru mesin memecah sunyi, namun yang mereka bawa bukan kebisingan,melainkan kepedulian.
Tanpa karpet merah.Tanpa seremoni panjang. Kardus-kardus berisi ratusan buku tulis dan perlengkapan sekolah diturunkan langsung ke halaman. Anak-anak berdiri memandangi dengan mata yang sulit menyembunyikan harap.
“Hari ini kami datang bukan untuk terlihat hebat. Kami datang karena satu anak saja yang putus asa karena tak punya alat sekolah, itu terlalu banyak,” ucap Baba, Founder Reborn Indonesia, dengan suara yang tegas namun sarat emosi.
Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan keheningan yang dalam,ketika buku-buku baru dibagikan, senyum perlahan merekah. Ada yang memeluknya erat. Ada yang langsung membolak-balik halamannya. Bagi mereka, itu bukan sekadar kertas itu rasa dihargai.
Lalu suasana berubah,halaman sekolah yang sederhana mendadak riuh,Reborn Indonesia mengajak siswa bermain sambil belajar. Kuis cepat, tebak-tebakan cerdas, tantangan membaca, hingga permainan edukatif membuat anak-anak berebut maju. Tawa meledak saat doorprize diumumkan.Sorakan kecil bergema setiap kali nama dipanggil.Hari itu, sekolah terasa hidup. Bukan oleh bangunan megah, tapi oleh energi dan semangat.
Di sisi lain, kegiatan kemanusiaan tak berhenti pada anak-anak. Para guru dan warga sekitar mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis. Tekanan darah dicek, konsultasi dilakukan. Bahkan kacamata baca dibagikan kepada yang membutuhkan.
Seorang guru tampak berkaca-kaca saat mencoba kacamata barunya,tulisan di buku absen yang semula kabur kini tampak jelas kembali.Itu momen kecil, tapi penuh makna.
Kepala sekolah SDN 3 Sindangsuka,Suherman,S.Pd., menyebut aksi ini sebagai bukti bahwa kepedulian tak selalu datang dari institusi besar. Kadang, ia lahir dari komunitas yang memilih untuk tidak tinggal diam.
Reborn Indonesia mungkin tak bisa menghapus tragedi yang telah terjadi. Tapi di Garut hari itu, mereka menunjukkan bahwa duka bisa dijawab dengan aksi. Bahwa solidaritas bisa lebih nyaring daripada suara mesin. Dan bahwa harapan bisa tumbuh, bahkan di halaman sekolah sederhana.
Di SDN 3 Sindangsuka, buku-buku baru menjadi simbol perlawanan terhadap keputusasaan. Kacamata baca menjadi jendela yang kembali membuka masa depan. Dan tawa anak-anak menjadi bukti: harapan masih hidup.***
Penulis : Agus Kusmayadi
Editor : Tim Metrojabar
Sumber Berita : Liputan












