BANDUNG,METROJABAR.CO.ID – Rabu 22 April 2026 pukul 07.05 WIB, langit Bandung terasa muram. Kabar duka datang dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Rochmat Surjawan bin Suparman (NBP D 8011860), Angkatan 80 Corps Mahawarman, atau yang lebih dikenal sebagai Wawan Cobra, mengembuskan napas terakhirnya setelah lebih dari sebulan berjuang melawan sakit.
Bagi keluarga, ia adalah ayah, saudara, dan tempat bersandar. Namun bagi banyak orang di lingkungan Menwa Jawa Barat dan Corps Mahawarman, kepergian Wawan Cobra terasa seperti runtuhnya satu pohon besar tempat banyak orang berteduh.
Nama Wawan Cobra bukan nama asing, Julukan itu melekat karena keahliannya menaklukkan ular. Tapi sesungguhnya, yang paling hebat dari dirinya bukan kemampuan menjinakkan hewan berbisa, melainkan kemampuannya menenangkan manusia yang sedang dicekam rasa takut.
Dalam latihan survival, saat peserta lain panik melihat ular atau menghadapi medan berat, Wawan Cobra justru hadir dengan ketenangan. Dengan suara rendah dan tatapan teduh, ia mengajarkan bahwa keberanian bukan soal tak punya rasa takut, melainkan tetap melangkah meski takut datang menghampiri.
Di kalangan junior, namanya disebut dengan hormat, di kalangan senior, ia dihargai tanpa perlu banyak bicara. Tetapi yang paling dikenang justru bukan keberaniannya, melainkan kerendahan hatinya.
Iwan Gumilar atau Gumi, anggota Corps Mahawarman Kompie B Unisba, masih sulit menahan haru saat mengenang almarhum.
“Beliau itu sosok yang sangat kami banggakan. Walaupun senior besar di Mahawarman, beliau selalu menyapa dengan sopan. Bahkan ke saya selalu bilang, ‘Pak Iwan’. Saya selalu terharu, orang sebesar beliau, tapi begitu menghargai orang lain,” ujar Gumi.
Ucapan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi banyak orang, di situlah letak kebesaran Wawan Cobra. Ia tidak merasa tinggi karena pengalaman, tidak merasa besar karena dihormati. Ia justru memuliakan orang lain dengan sikapnya.
Tak semua orang dikenang karena pangkat atau jabatan. Ada yang tetap hidup dalam ingatan karena tutur kata, karena perhatian kecil, karena kesediaannya hadir ketika orang lain membutuhkan.Wawan Cobra adalah salah satunya.
Rabu siang itu, di TPU Sirnaraga Kota Bandung, tanah merah menjadi saksi perpisahan terakhir. Langkah para sahabat terasa berat. Beberapa menunduk menahan air mata, sebagian lain hanya diam memandangi pusara yang perlahan tertutup tanah.
Mereka tahu, yang pergi hari itu bukan sekadar seorang senior. Yang pergi adalah teladan. Sosok yang selama ini berdiri paling depan saat ada kesulitan, namun memilih berada paling belakang saat pujian datang.
Kini barak akan terasa lebih sepi, jalur latihan akan terasa berbeda, dan setiap cerita tentang keberanian akan selalu menyebut satu nama: Wawan Cobra.
Selamat jalan, Rochmat Surjawan bin Suparman.Engkau mungkin telah tiada, tetapi jejakmu tinggal dalam hormat para junior, dalam kenangan para sahabat, dan dalam doa orang-orang yang pernah merasakan kebaikanmu.
Jaya Mahawarman sepanjang masa.Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di surga terbaik.Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.***
Penulis : Agus Kusmayadi
Editor : Tim Metrojabar
Sumber Berita : Wawancara












